Tarif Pajak ID

PPN

Pajak Pertambahan Nilai - Pajak atas konsumsi Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean

12 aktif14 total

Penyerahan BKP/JKP dalam negeri

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

Tarif dasar PPN 12% berlaku 1 Januari 2025, namun 12% penuh hanya untuk BKP mewah (objek PPnBM: kapal pesiar/pesiar pribadi, pesawat udara pribadi, dan rumah dengan HJE > Rp 30 miliar). Untuk penyerahan BKP/JKP selain barang mewah, DPP menggunakan DPP nilai lain 11/12 dari harga jual sehingga beban efektif 11% (12% × 11/12). Mekanisme diatur PMK 131/2024 dan PMK 11/2025.

11%Tarif efektif: 12% × 11/12 = 11% untuk selain barang mewah (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025); 12% penuh hanya BKP mewah
Dasar pengenaan: Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = Harga Jual/Penggantian/Uang muka/Nilai ekspor; selain barang mewah: DPP nilai lain 11/12 × harga jual
Wajib Pajak
Konsumen akhir
Penerima
Negara
Pemotong
PKP (Pengusaha Kena Pajak) sebagai pemungut
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
UU HPP menaikkan tarif PPN dari 10% menjadi 11% (2022) lalu 12% (2025+). PMK 131/2024 menetapkan: BKP mewah (terutang PPnBM — kapal pesiar/pesiar pribadi, pesawat udara pribadi, rumah HJE > Rp 30 Miliar pada penyerahan pertama kali) dikenai 12% atas DPP penuh; selain barang mewah DPP nilai lain 11/12 sehingga efektif 11%. PMK 11/2025 (ditetapkan & diundangkan 4 Februari 2025, diubah PMK 53/2025) menegaskan skema DPP Nilai Lain dan Besaran Tertentu PPN sebagai penerus PMK 121/2015. Untuk impor da...
Contoh Perhitungan
Penjualan BKP selain barang mewah Rp 1.200.000
DPP nilai lain = 11/12 × 1.200.000 = 1.100.000; PPN = 12% × 1.100.000
→ PPN = Rp 132.000 (efektif 11% × 1.200.000)

Penyerahan BKP/JKP (2022-2024)

Diubah
11%2022-04-01 → 2024-12-31

Tarif PPN 11% berdasarkan UU HPP yang mulai berlaku 1 April 2022.

11%
Dasar pengenaan: DPP
Wajib Pajak
Konsumen akhir
Penerima
Negara
Pemotong
PKP
Berlaku
2022-04-01 → 2024-12-31
Contoh Perhitungan
Penyerahan BKP/JKP (2022-2024) Rp 100.000.000
11% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 11.000.000

Penyerahan BKP/JKP (Pra-HPP)

Diubah
10%1984-04-01 → 2022-03-31

Tarif PPN 10% yang berlaku sejak awal UU PPN 1984 hingga sebelum UU HPP.

10%
Dasar pengenaan: DPP
Wajib Pajak
Konsumen akhir
Penerima
Negara
Pemotong
PKP
Berlaku
1984-04-01 → 2022-03-31
Tarif PPN 10% berlaku konsisten dari 1984 hingga 2022.
Contoh Perhitungan
Penjualan BKP Rp 100.000.000 tahun 2001
10% × 100.000.000
→ PPN = Rp 10.000.000

Ekspor Barang Kena Pajak

Berlaku
0%2022-04-01 → sekarang

PPN atas ekspor Barang Kena Pajak Berwujud dikenakan tarif 0%.

0%
Dasar pengenaan: Nilai ekspor
Wajib Pajak
Eksportir PKP
Penerima
Negara
Berlaku
2022-04-01 → sekarang
Tarif 0% untuk ekspor BKP berwujud. Berbeda dengan ekspor jasa (dapat berbeda tarif tergantung jenis).
Contoh Perhitungan
Ekspor Barang Kena Pajak - tidak kena pajak
Tarif 0%
→ Pajak = Rp 0

Impor Barang Kena Pajak

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

PPN atas impor Barang Kena Pajak Berwujud yang dikenakan dan dipungut bersamaan dengan pemungutan Bea Masuk, Cukai, dan pungutan lainnya oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Untuk BKP umum (selain barang mewah) beban efektif 11% via DPP nilai lain 11/12; BKP mewah impor dikenai 12% penuh atas nilai impor tanpa DPP nilai lain.

11%Tarif efektif: Barang umum: 12% × 11/12 = efektif 11% dari nilai impor (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025); BKP mewah impor: 12% penuh
Dasar pengenaan: Nilai pabean + Bea Masuk + pungutan lain (CIF + BM + Cukai); selain barang mewah DPP nilai lain 11/12 × nilai impor
Wajib Pajak
Importir
Penerima
Negara
Pemotong
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
PPN impor = tarif PPN × DPP × (Nilai CIF + BM + Cukai). Sejak 1 Januari 2025 (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025): barang impor selain barang mewah memakai DPP nilai lain 11/12 sehingga efektif 11%; BKP mewah impor dikenai 12% penuh tanpa DPP nilai lain. Kategori BKP mewah impor meliputi antara lain mobil mewah, sepeda motor dengan kapasitas mesin 250 cc atau lebih, perhiasan/logam mulia dengan HJE Rp 5.000.000 atau lebih per lapak, dan barang mewah lainnya sesuai daftar PMK 131/2024. Tidak ada pemisa...
Contoh Perhitungan
Impor barang umum CIF USD 10.000 (Rp 160.000.000), BM 10%, PPN efektif 11%
BM = 10% × 160jt = 16jt. DPP = 160jt + 16jt = 176jt. PPN = 12% × 11/12 × 176jt
→ PPN Impor = Rp 19.360.000 (efektif 11%)
Impor sepeda motor 250 cc (BKP mewah) CIF + BM = Rp 100.000.000
12% × 100.000.000 (tanpa DPP nilai lain)
→ PPN Impor = Rp 12.000.000

Penyerahan melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE)

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

PPN atas penyerahan BKP dan/atau JKP melalui PMSE (e-commerce/marketplace) baik dari pedagang dalam negeri maupun luar negeri. Penyelenggara PMSE bertindak sebagai pemungut PPN. BKP umum dikenai efektif 11% via DPP nilai lain 11/12; BKP mewah yang disalurkan via PMSE dikenai 12% penuh atas harga jual tanpa DPP nilai lain.

11%Tarif efektif: Barang umum: 12% × 11/12 = efektif 11% (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025); BKP mewah via PMSE: 12% penuh
Dasar pengenaan: Harga jual/penggantian yang disepakati (DPP); selain barang mewah DPP nilai lain 11/12 × harga jual
Wajib Pajak
Konsumen
Penerima
Negara
Pemotong
Penyelenggara PMSE (marketplace)
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
PPN PMSE dipungut oleh penyelenggara (Shopee, Tokopedia, dll). PMSE luar negeri (Amazon, dll) wajib mendaftar sebagai PKP dan memungut PPN. DPP untuk BKP melalui PMSE = harga jual yang disepakati. Sejak 1 Januari 2025 (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025): barang PMSE selain barang mewah efektif 11% (DPP nilai lain 11/12); kategori BKP mewah via PMSE/impor — antara lain mobil mewah, sepeda motor ≥ 250 cc, perhiasan/logam mulia dengan HJE ≥ Rp 5.000.000 per lapak, dan barang mewah lainnya sesuai daftar ...
Contoh Perhitungan
Penyerahan melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) Rp 100.000.000
11% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 11.000.000

Penyerahan Jasa Tenaga Listrik

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

PPN atas penyerahan jasa tenaga listrik oleh PLN atau penyedia listrik lainnya.

11%Tarif efektif: 11% (PMK 131/2024)
Dasar pengenaan: Harga jual tenaga listrik
Wajib Pajak
Konsumen listrik
Penerima
Negara
Pemotong
PLN / penyedia listrik
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
Penyerahan jasa tenaga listrik di atas 6.600 VA (rumah tangga) dikenakan PPN. Untuk daya sampai dengan 6.600 VA: penyerahan tetap JKP tetapi PPN tidak dipungut (fasilitas).
Contoh Perhitungan
Penyerahan Jasa Tenaga Listrik Rp 100.000.000
11% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 11.000.000

Penyerahan Jasa Telekomunikasi

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

PPN atas penyerahan jasa telekomunikasi (pulsa, data, telepon) oleh operator telekomunikasi.

11%Tarif efektif: 11% (PMK 131/2024)
Dasar pengenaan: Harga jual/penggantian jasa telekomunikasi
Wajib Pajak
Pengguna jasa telekomunikasi
Penerima
Negara
Pemotong
Operator telekomunikasi (PKP)
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
Penyerahan jasa telekomunikasi termasuk jasa kena pajak. Penjualan pulsa dan kartu perdana melalui distributor: PPN dipungut oleh distributor tingkat pertama.
Contoh Perhitungan
Penyerahan Jasa Telekomunikasi Rp 100.000.000
11% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 11.000.000

Ekspor Jasa Kena Pajak

Berlaku
0%2022-04-01 → sekarang

PPN atas ekspor Jasa Kena Pajak berupa jasa yang dilakukan di Indonesia yang manfaatnya digunakan di luar Indonesia. Dikenakan tarif 0%.

0%
Dasar pengenaan: Nilai penggantian/imbalan jasa
Wajib Pajak
Eksportir jasa (PKP)
Penerima
Negara
Berlaku
2022-04-01 → sekarang
Tarif 0% untuk ekspor JKP. Syarat: jasa dilakukan di Indonesia dan manfaatnya digunakan di luar Indonesia. Termasuk jasa konstruksi, jasa konsultansi, dll yang dikonsumsi di luar negeri.
Contoh Perhitungan
Ekspor Jasa Kena Pajak - tidak kena pajak
Tarif 0%
→ Pajak = Rp 0

Barang/Jasa Tidak Kena Pajak (Bukan JKP/BKP)

Berlaku
0%2010-04-01 → sekarang

Daftar barang dan jasa yang tidak termasuk Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak sehingga tidak dikenakan PPN. Diatur dalam Pasal 4A UU PPN.

0%
Dasar pengenaan: Tidak ada (bukan objek PPN)
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
2010-04-01 → sekarang
Bukan BKP: hasil pertambangan/panas bumi sebelum diolah, kebutuhan pokok (beras, gabah, jagung, sagu, kedelai), makanan/minuman disajikan (restoran), uang, emas batangan, surat berharga. Bukan JKP: jasa keagamaan, jasa kesenian/hiburan, jasa perhotelan (room), jasa pelayanan kesehatan, jasa pendidikan, dll.
Contoh Perhitungan
Barang/Jasa Tidak Kena Pajak (Bukan JKP/BKP) - tidak kena pajak
Tarif 0%
→ Pajak = Rp 0

PPN Tidak Dipungut (JKPT) Industri Strategis

Berlaku
0%2022-04-01 → sekarang

Pembebasan PPN (JKPT/Pajak Tidak Dipungut) untuk penyerahan BKP strategis tertentu yang dibeli oleh pengusaha yang mendapat fasilitas. Fasilitas PPN tidak dipungut diberikan melalui PMK.

0%
Dasar pengenaan: Harga jual BKP (PPN tidak dipungut)
Wajib Pajak
Pembeli BKP (penerima fasilitas)
Penerima
Negara
Pemotong
PKP penjual (tidak memungut PPN)
Berlaku
2022-04-01 → sekarang
Fasilitas PPN tidak dipungut diberikan antara lain untuk: mesin dan peralatan industri tertentu, kapal, pesawat, kereta api, BKP untuk keperluan pendidikan/penelitian, BKP untuk perwakilan diplomatik, dll. Pelaksana fasilitas PPN tidak dipungut untuk BKP/JKP strategis diatur dalam PP 49/2022 (implementasi Pasal 16B UU HPP) beserta peraturan menteri turunannya.
Contoh Perhitungan
PPN Tidak Dipungut (JKPT) Industri Strategis - tidak kena pajak
Tarif 0%
→ Pajak = Rp 0

Jasa Kegiatan Usaha Persewaan (JKP)

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

PPN atas jasa kegiatan usaha persewaan (sewa menyewa tanah, bangunan, kendaraan, mesin, dan barang lain). Jasa persewaan diperlakukan sebagai penyerahan JKP biasa: PKP pemberi sewa (lessor) yang memungut PPN atas nilai sewa dan menerbitkan faktur pajak. Mekanisme 'penyewa sebagai pemungut PPN' (penerima jasa memungut) adalah warisan era UU 8/1983 dan sudah tidak berlaku.

11%Tarif efektif: 11% (12% × 11/12 DPP nilai lain untuk selain barang mewah, PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025)
Dasar pengenaan: Nilai sewa/imbalan persewaan yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh pemberi sewa (termasuk penerimaan angsuran/uang muka)
Wajib Pajak
Penyewa (konsumen akhir)
Penerima
Negara
Pemotong
PKP pemberi sewa (lessor) selaku penyerah JKP
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
Jasa persewaan termasuk JKP sejak UU PPN (Pasal 4 ayat (1) menyebut secara eksplisit kegiatan usaha persewaan); penyerahannya terjadi pada saat penerimaan pembayaran (Pasal 4 ayat (3)). PKP pemberi sewa wajib memungut PPN dan menerbitkan faktur pajak atas penerimaan sewa. Pemberi sewa yang bukan PKP tidak memungut PPN atas sewa yang diserahkannya. Panduan resmi DJP/Kemenkeu dan praktik konsultan pajak konsisten bahwa pemungut PPN sewa adalah pemberi sewa yang merupakan PKP, bukan penyewa.
Contoh Perhitungan
Sewa gedung Rp 100.000.000 oleh PKP pemberi sewa
11% (12% × 11/12) × 100.000.000
→ PPN = Rp 11.000.000, dipungut dan difakturkan oleh PKP pemberi sewa

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN

Berlaku
11%2025-01-01 → sekarang

Aturan penghitungan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN. DPP umum = harga jual/penggantian/nilai impor/nilai ekspor. Sejak 1 Januari 2025, untuk penyerahan BKP/JKP selain barang mewah DPP menggunakan nilai lain 11/12 dari harga jual sehingga beban efektif 11% dari tarif dasar 12% (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025); BKP mewah memakai DPP penuh.

11%Tarif efektif: 12% × 11/12 = 11% untuk selain barang mewah; 12% penuh untuk BKP mewah
Dasar pengenaan: Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Wajib Pajak
Konsumen / pembeli akhir
Penerima
Negara
Berlaku
2025-01-01 → sekarang
DPP PPN = Harga Jual/Penggantian/Nilai Impor/Nilai Ekspor (Pasal 11 UU PPN). Sejak 1 Januari 2025 (PMK 131/2024 jo. PMK 11/2025): BKP mewah → DPP penuh dengan tarif 12%; selain barang mewah → DPP nilai lain 11/12 (efektif 11%). Frasa 'industri tertentu: DPP = 65-100% HJE' adalah rezim lama pra-UU HPP dan sudah tidak digunakan.
Contoh Perhitungan
Penyerahan BKP selain barang mewah Rp 100.000.000
12% × (11/12 × 100.000.000)
→ PPN = Rp 11.000.000 (efektif 11%)

Pengkreditan PPN (Input Tax Credit)

Berlaku
11%1984-04-01 → sekarang

PPN Input - PPN Output = PPN disetor. Syarat: Faktur PPN valid, untuk kegiatan usaha kena PPN.

11%
Dasar pengenaan: Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Wajib Pajak
Konsumen / pembeli akhir
Penerima
Negara
Berlaku
1984-04-01 → sekarang
PPN Input dikreditkan dari PPN Output. Syarat: ada Faktur PPN, untuk kegiatan usaha yang kena PPN.
Contoh Perhitungan
Transaksi Pengkreditan PPN (Input Tax Credit) Rp 100.000.000
11% × 100.000.000
→ PPN = Rp 11.000.000
PPh UMKMPPnBM