Tarif Pajak ID

PPh 21

Pajak Penghasilan Pasal 21 - Pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan orang pribadi

20 aktif29 total

Gaji/Bulan TER

Berlaku
0% – 34% (TER A/B/C)2024-01-01 → sekarang

Tarif Efektif Rata-rata (TER) PPh 21 untuk pemotongan bulanan pegawai tetap pada masa pajak selain masa pajak terakhir. Menggantikan metode tarif progresif annualized sejak 1 Januari 2024. Terdiri dari 3 kategori menurut kelas PTKP: TER A (TK/0, TK/1, K/0) 44 lapisan, TER B (TK/2, TK/3, K/1, K/2) 40 lapisan, dan TER C (K/3) 41 lapisan. Tarif 0% hingga 34%.

Lihat tabel lengkap dengan kalkulator TER →
0% – 34% (TER A/B/C)Tarif efektif: 0% untuk penghasilan bruto rendah (≤ Rp 5,4 juta / 6,2 juta / 6,6 juta sesuai kategori), hingga 34% untuk penghasilan bruto > Rp 1,4 miliar
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto bulanan dikurangi iuran pensiun/BPJS
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri (pegawai/freelancer)
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja/pemberi penghasilan
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Dasar hukum: PP 58 Tahun 2023 (Lampiran Tabel TER A/B/C) jo. PMK 168/2023. Kategori ditentukan kelas PTKP di awal tahun pajak: A = TK/0, TK/1, K/0; B = TK/2, TK/3, K/1, K/2; C = K/3. TER hanya dipakai untuk masa pajak Januari–November; masa pajak terakhir (Desember) dihitung dengan tarif Pasal 17 atas PKP setahun dikurangi PPh yang telah dipotong. Detail tabel per kategori: TER A, TER B, TER C.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0, gaji Rp 10.000.000/bulan
TER A: jatuh di lapisan di atas Rp 9.650.000 – Rp 10.050.000 = 2%
→ PPh 21 = 2% × Rp 10.000.000 = Rp 200.000
Pegawai K/2, gaji Rp 25.000.000/bulan
TER B: jatuh di lapisan di atas Rp 21.850.000 – Rp 26.000.000 = 9%
→ PPh 21 = 9% × Rp 25.000.000 = Rp 2.250.000
Pegawai K/3, gaji Rp 50.000.000/bulan
TER C: jatuh di lapisan di atas Rp 47.400.000 – Rp 51.200.000 = 17%
→ PPh 21 = 17% × Rp 50.000.000 = Rp 8.500.000

SPT Tahunan Progresif

Berlaku
5%/15%/25%/30%/35%2022-01-01 → sekarang

Tarif progresif PPh Orang Pribadi berlaku untuk perhitungan SPT Tahunan. Tarif ini merupakan tarif dasar yang ditetapkan UU PPh dan terakhir diubah oleh UU HPP.

5%/15%/25%/30%/35%
Dasar pengenaan: Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Penghasilan neto - PTKP
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 60 jt5%
2Rp 60 jtRp 250 jt15%
3Rp 250 jtRp 500 jt25%
4Rp 500 jtRp 5.000 jt30%
5Rp 5.000 jt∞35%
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2022-01-01 → sekarang
Lapisan tarif 35% ditambahkan oleh UU HPP (sebelumnya maksimal 30%). PTKP 2024: Single Rp 54.000.000; Kawin Rp 58.500.000; Tanggungan Rp 4.500.000/orang (maks 3).
Contoh Perhitungan
PKP Rp 300.000.000 setahun
5%×60jt + 15%×190jt + 25%×50jt = 3jt + 28.5jt + 12.5jt
→ PPh terutang = Rp 44.000.000

Tarif Progresif Pra-HPP

Diubah
5%/15%/25%/30%2009-01-01 → 2021-12-31

Tarif progresif PPh OP sebelum UU HPP berlaku. Maksimal 30% tanpa lapisan 35%.

5%/15%/25%/30%
Dasar pengenaan: Penghasilan Kena Pajak
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 50 jt5%
2Rp 50 jtRp 250 jt15%
3Rp 250 jtRp 500 jt25%
4Rp 500 jt∞30%
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2009-01-01 → 2021-12-31
Diberlakukan oleh UU 36/2008. Brackets berubah dari UU 17/2000 (batas atas berbeda).
Contoh Perhitungan
Tarif Progresif Pra-HPP PKP Rp 100.000.000
Hitung per lapisan progresif
→ Pajak = jumlah dari setiap lapisan

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Berlaku
PTKP sesuai PMK berlaku2016-01-01 → sekarang

Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang mengurangi penghasilan neto untuk menghitung PKP. Ditetapkan oleh PMK setiap tahunnya.

PTKP sesuai PMK berlakuTarif efektif: Rp 54.000.000 (TK/0) s/d Rp 72.000.000 (K/3)
Dasar pengenaan: Bukan tarif, melainkan pengurang
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
2016-01-01 → sekarang
PTKP: TK/0 = Rp 54.000.000; K/0 = Rp 58.500.000; K/1 = Rp 63.000.000; K/2 = Rp 67.500.000; K/3 = Rp 72.000.000. PTKP Rp 54 juta (TK/0) ditetapkan PMK 101/PMK.010/2016 (YA 2016; PMK 122/2015 hanya menetapkan PTKP Rp 36 juta untuk YA 2015) — dan pasca UU HPP angka PTKP ini juga tertanam dalam UU 7/2021 Pasal 7 ayat (1). Belum ada perubahan angka sejak 2016.
Contoh Perhitungan
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)
Sesuai formula yang berlaku
→ Lihat ketentuan detail

Honorarium/Bukan Pegawai (BerNPWP)

Berlaku
5%/15%/25%/30%/35%2009-01-01 → sekarang

Pemotongan PPh 21 atas honorarium atau imbalan kepada tenaga ahli, dokter, pengacara, akuntan, arsitek, notaris, penilai, aktuaris, dan tenaga ahli lainnya yang melakukan pekerjaan bebas (bukan pegawai). Dikenakan tarif progresif Pasal 17 UU PPh dengan norma penghitungan 50% dari penghasilan bruto sebagai penghasilan neto (PP 16/2009 Pasal 17).

5%/15%/25%/30%/35%Tarif efektif: Tarif Pasal 17 × 50% norma penghitungan
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan) dikurangi PTKP
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 60 jt5%
2Rp 60 jtRp 250 jt15%
3Rp 250 jtRp 500 jt25%
4Rp 500 jtRp 5.000 jt30%
5Rp 5.000 jt∞35%
Wajib Pajak
Tenaga ahli/bukan pegawai (WP OP dalam negeri)
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi penghasilan
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% berlaku untuk tenaga ahli. Untuk pekerjaan bebas/usaha lainnya norma penghitungan bisa berbeda (misalnya: pedagang 20%, petani 10% — nilai representatif; persentase NPPN kini diatur per jenis usaha/KLU dan wilayah via PER-17/PJ/2015 jo. PMK 81/2024). Pegawai tidak tetap tidak memakai norma ini — lihat entri Pegawai Tidak Tetap (tarif efektif harian 0%/0,5%; di atas Rp 2.500.000/hari tarif Pasal 17).
Contoh Perhitungan
Notaris menerima honorarium Rp 100.000.000
Neto = 50% × 100jt = 50jt. PKP = 50jt - 54jt (PTKP) = 0
→ PPh 21 = Rp 0 (PKP negatif, tidak terutang)
Konsultan menerima honorarium Rp 200.000.000
Neto = 50% × 200jt = 100jt. PKP = 100jt - 54jt = 46jt. PPh = 5% × 46jt
→ PPh 21 = Rp 2.300.000

Penghasilan Pegawai Tidak Tetap / Tenaga Kerja Lepas

Berlaku
0% untuk ≤ Rp 450.000/hari; 0,5% untuk > Rp 450.000 s.d. Rp 2.500.000/hari; tarif Pasal 17 (5%–35%) × DPP (50% × bruto sehari) untuk > Rp 2.500.000/hari2024-01-01 → sekarang

Pemotongan PPh 21 atas penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang menerima upah secara harian, mingguan, satuan, atau borongan (dihitung rata-rata sehari). Berlaku tarif efektif harian PMK 168/2023: 0% untuk penghasilan bruto sehari ≤ Rp 450.000; 0,5% untuk > Rp 450.000 s.d. Rp 2.500.000; di atas Rp 2.500.000 sehari memakai tarif Pasal 17 atas DPP = 50% × penghasilan bruto sehari.

0% untuk ≤ Rp 450.000/hari; 0,5% untuk > Rp 450.000 s.d. Rp 2.500.000/hari; tarif Pasal 17 (5%–35%) × DPP (50% × bruto sehari) untuk > Rp 2.500.000/hariTarif efektif: 0% / 0,5% / tarif Pasal 17 progresif sesuai jumlah penghasilan sehari
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto sehari (rata-rata harian untuk upah mingguan, satuan, atau borongan)
Wajib Pajak
Pegawai tidak tetap / tenaga kerja lepas
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Tarif efektif harian per PMK 168/2023 (ambang lama Rp 4.500.000/hari dengan PTKP harian sudah tidak berlaku sejak 2024). Untuk upah mingguan/satuan/borongan, gunakan rata-rata penghasilan sehari. Penghasilan bruto di atas Rp 2.500.000 sehari dipotong dengan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh yang ditentukan berdasarkan annualisasi penghasilan, dikenakan atas DPP sebesar 50% × penghasilan bruto sehari.
Contoh Perhitungan
Upah harian Rp 400.000
Bruto sehari ≤ Rp 450.000 → tarif efektif harian 0%
→ PPh 21 = Rp 0
Upah harian Rp 1.000.000
Bruto sehari di atas Rp 450.000 s.d. Rp 2.500.000 → tarif efektif harian 0,5%
→ PPh 21 = 0,5% × Rp 1.000.000 = Rp 5.000

Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi

Berlaku
0%2022-01-01 → sekarang

Pemotongan PPh 21 atas Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi yang dibagikan kepada anggota WP Orang Pribadi. SHU yang diterima anggota koperasi diperlakukan sebagai dividen.

0%
Dasar pengenaan: Jumlah SHU yang dibagikan
Wajib Pajak
Anggota koperasi (WP OP)
Penerima
Negara
Pemotong
Koperasi
Berlaku
2022-01-01 → sekarang
SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggota WP OP dikenakan PPh final 0% (bebas pajak, dikecualikan dari objek). Fasilitas ini diberikan untuk mendukung perkembangan koperasi.
Contoh Perhitungan
Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi - tidak kena pajak
Tarif 0%
→ Pajak = Rp 0

Natura/Kenikmatan dari Pemberi Kerja

Berlaku
Tidak ada tarif tersendiri: nilai wajar natura/kenikmatan digabungkan ke penghasilan bruto penerima dan dikenai TER bulanan/harian atau tarif Pasal 17 sesuai status penerima2024-01-01 → sekarang

Perlakuan PPh 21 atas natura/kenikmatan. Natura/kenikmatan yang diberikan pemberi kerja kepada pegawai dikenai PPh 21 dengan cara digabungkan ke penghasilan bruto bulanan pegawai (dikenai TER bulanan, atau tarif Pasal 17 pada masa pajak terakhir). Natura/kenikmatan yang diberikan bukan oleh pemberi kerja sejak UU HPP juga menjadi objek PPh 21 dan dipotong pemberi penghasilan dengan tarif efektif yang sesuai (TER harian/bulanan).

Tidak ada tarif tersendiri: nilai wajar natura/kenikmatan digabungkan ke penghasilan bruto penerima dan dikenai TER bulanan/harian atau tarif Pasal 17 sesuai status penerimaTarif efektif: Mengikuti TER / Pasal 17 penerima (tidak ada tarif khusus natura)
Dasar pengenaan: Nilai wajar natura/kenikmatan yang digabungkan ke penghasilan bruto penerima
Wajib Pajak
Penerima natura/kenikmatan
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Tidak ada tarif pemotongan khusus (termasuk tarif 1%) atas natura dalam PP 58/2023 maupun PMK 168/2023 — angka 1% pada data lama tidak berdasar. Natura dari pemberi kerja (kasus khusus berupa pemberian dengan tanda kurung siku sebesar jumlah rupiah tertentu tetap mengikuti aturan natura) digabungkan ke penghasilan bruto sehubungan dengan pekerjaan bulan bersangkutan, sehingga tarifnya adalah TER bulanan kategori pegawai bersangkutan (atau Pasal 17 pada masa pajak terakhir).
Contoh Perhitungan
Pegawai tetap TK/0 menerima gaji Rp 10.000.000 plus natura sebesar Rp 1.000.000 dalam satu bulan
Bruto = Rp 10.000.000 + Rp 1.000.000 = Rp 11.000.000 → TER A lapisan di atas Rp 10.700.000 – Rp 11.050.000 = 3%
→ PPh 21 = 3% × Rp 11.000.000 = Rp 330.000

Penarikan Dana Pensiun / JHT

Berlaku
0%/5%/10%/15%2014-01-01 → sekarang

Pemotongan PPh 21 atas penarikan iuran pensiun/jaminan hari tua (JHT) yang dibayarkan sekaligus. Tarif PPh final berjenjang berdasarkan akumulasi iuran.

0%/5%/10%/15%
Dasar pengenaan: Akumulasi iuran pensiun/JHT yang ditarik
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 50 jt0%
2Rp 50 jtRp 100 jt5%
3Rp 100 jtRp 500 jt10%
4Rp 500 jt∞15%
Wajib Pajak
Peserta pensiun/JHT
Penerima
Negara
Pemotong
Dana pensiun/BPJS Ketenagakerjaan
Berlaku
2014-01-01 → sekarang
Tarif berjenjang final: ≤50jt = 0%, 50-100jt = 5%, 100-500jt = 10%, >500jt = 15%. Berlaku untuk penarikan yang dibayarkan sekaligus. Penarikan anuitas/bulanan: digabung dengan penghasilan rutin (bukan final).
Contoh Perhitungan
Penarikan JHT Rp 80.000.000 sekaligus
50jt × 0% + 30jt × 5%
→ PPh 21 = Rp 1.500.000

Tarif Progresif Pra-2009

Diubah
5%/10%/15%/25%/35%2001-01-01 → 2008-12-31

Tarif progresif PPh OP sebelum UU 36/2008 berlaku. Tarif tertinggi 35% untuk bracket > Rp 250 juta.

5%/10%/15%/25%/35%
Dasar pengenaan: Penghasilan Kena Pajak
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 25 jt5%
2Rp 25 jtRp 50 jt10%
3Rp 50 jtRp 100 jt15%
4Rp 100 jtRp 200 jt25%
5Rp 200 jt∞35%
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2001-01-01 → 2008-12-31
Tarif progresif UU 17/2000 dengan lapisan 5%, 10%, 15%, 25%, 35%.
Contoh Perhitungan
Tarif Progresif Pra-2009 PKP Rp 100.000.000
Hitung per lapisan progresif
→ Pajak = jumlah dari setiap lapisan

Tarif Progresif UU 7/1983

Dicabut
15%/25%/35%1984-01-01 → 1994-12-31

Tarif progresif PPh Orang Pribadi berdasarkan UU 7/1983 (UU PPh asli). Terdiri dari 3 lapis tarif: 15%, 25%, dan 35%. Berlaku dari tahun pajak 1984 hingga 1994.

15%/25%/35%
Dasar pengenaan: Penghasilan Kena Pajak (PKP)
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 10 jt15%
2Rp 10 jtRp 50 jt25%
3Rp 50 jt∞35%
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → 1994-12-31
UU PPh pertama Indonesia (UU 7/1983). Tarif progresif 3 lapis: 15% (≤10jt), 25% (10-50jt), 35% (>50jt). PTKP awal sangat kecil (Rp 960.000/tahun untuk single).
Contoh Perhitungan
PKP Rp 30.000.000 tahun 1990
15% × 10jt + 25% × 20jt = 1.5jt + 5jt
→ PPh terutang = Rp 6.500.000

Tarif Progresif UU 10/1994

Dicabut
15%/25%/35%1995-01-01 → 2000-12-31

Tarif progresif PPh OP berdasarkan UU 10/1994 (perubahan pertama UU PPh). Tarif tidak berubah dari UU 7/1983 namun PTKP dinaikkan. Berlaku 1995-2000.

15%/25%/35%
Dasar pengenaan: Penghasilan Kena Pajak (PKP)
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 10 jt15%
2Rp 10 jtRp 50 jt25%
3Rp 50 jt∞35%
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
1995-01-01 → 2000-12-31
UU 10/1994 tidak mengubah tarif Pasal 17 secara signifikan. Tarif tetap 15/25/35%. PTKP dinaikkan menjadi Rp 1.728.000/tahun.
Contoh Perhitungan
PKP Rp 30.000.000 tahun 1998
15% × 10jt + 25% × 20jt = 1.5jt + 5jt
→ PPh terutang = Rp 6.500.000

Pemotongan Bulanan Progresif (Pra-TER)

Dicabut
Tarif Pasal 17 × (penghasilan neto bulanan × 12 - PTKP) setelah annualisasi1984-01-01 → 2023-12-31

Metode pemotongan PPh 21 bulanan sebelum TER berlaku. Menggunakan tarif progresif Pasal 17 dengan annualisasi penghasilan. Berlaku dari 1984 hingga digantikan TER pada 2024.

Tarif Pasal 17 × (penghasilan neto bulanan × 12 - PTKP) setelah annualisasiTarif efektif: Bervariasi sesuai lapisan progresif
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto bulanan dikurangi biaya jabatan/iuran pensiun, kemudian annualisasi
Wajib Pajak
WP Orang Pribadi dalam negeri (pegawai)
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja
Berlaku
1984-01-01 → 2023-12-31
Metode lama: annualisasi penghasilan (×12), hitung PPh setahun dengan tarif progresif, bagi 12 untuk mendapatkan PPh bulanan. Digantikan oleh TER mulai 2024 melalui PP 58/2023.
Contoh Perhitungan
Pegawai K/1, gaji Rp 8.000.000/bulan (2019)
Neto=8jt×12=96jt. PTKP K/1=63jt. PKP=33jt. PPh tahunan=5%×33jt=1.65jt. Bulanan=1.65jt/12
→ PPh 21 = Rp 137.500/bulan

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Dicabut
PTKP sesuai regulasi berlaku1984-01-01 → 1994-12-31

PTKP awal UU 7/1983. TK/0 = Rp 960.000/tahun. Berlaku 1984-1994.

PTKP sesuai regulasi berlakuTarif efektif: TK/0 = Rp 960.000; K/0 = Rp 1.440.000; K/1 = Rp 1.680.000
Dasar pengenaan: Bukan tarif, melainkan pengurang
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
1984-01-01 → 1994-12-31
PTKP UU 7/1983: TK/0=R960.000; K/0=R1.440.000; K/1=R1.680.000; K/2=R1.920.000; K/3=R2.160.000. Tambahan wajib lapor R480.000.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0 gaji Rp 5.000.000/bulan (1984)
PTKP tahunan berlaku mengurangi penghasilan neto
→ PTKP berlaku mengurangi penghasilan neto

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Dicabut
PTKP sesuai regulasi berlaku1995-01-01 → 2004-12-31

PTKP UU 10/1994. TK/0 = Rp 1.728.000/tahun. Berlaku 1995-2004.

PTKP sesuai regulasi berlakuTarif efektif: TK/0 = Rp 1.728.000; K/0 = Rp 1.920.000; K/1 = Rp 2.160.000
Dasar pengenaan: Bukan tarif, melainkan pengurang
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
1995-01-01 → 2004-12-31
PTKP dinaikkan: TK/0=R1.728.000; K/0=R1.920.000; Tanggungan R240.000/orang.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0 gaji Rp 5.000.000/bulan (1995)
PTKP tahunan berlaku mengurangi penghasilan neto
→ PTKP berlaku mengurangi penghasilan neto

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Dicabut
PTKP sesuai regulasi berlaku2005-01-01 → 2008-12-31

PTKP PMK 138/2005. Lonjakan besar. TK/0 = Rp 12.000.000/tahun. Berlaku 2005-2008.

PTKP sesuai regulasi berlakuTarif efektif: TK/0 = Rp 12.000.000; K/0 = Rp 13.200.000; K/1 = Rp 14.400.000; K/2 = Rp 15.600.000; K/3 = Rp 16.800.000
Dasar pengenaan: Bukan tarif, melainkan pengurang
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
2005-01-01 → 2008-12-31
PTKP dinaikkan drastis: TK/0=R12.000.000 (naik 7x). Kawin +R1.200.000, tanggungan +R1.200.000/orang.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0 gaji Rp 5.000.000/bulan (2005)
PTKP tahunan berlaku mengurangi penghasilan neto
→ PTKP berlaku mengurangi penghasilan neto

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Dicabut
PTKP sesuai regulasi berlaku2009-01-01 → 2015-12-31

PTKP PMK 162/2009. TK/0 = Rp 15.840.000/tahun. Berlaku 2009-2015.

PTKP sesuai regulasi berlakuTarif efektif: TK/0 = Rp 15.840.000; K/0 = Rp 17.280.000; K/1 = Rp 18.720.000; K/2 = Rp 20.160.000; K/3 = Rp 21.600.000
Dasar pengenaan: Bukan tarif, melainkan pengurang
Wajib Pajak
-
Penerima
-
Berlaku
2009-01-01 → 2015-12-31
PTKP dinaikkan lagi: TK/0=R15.840.000. Kawin +R1.440.000, tanggungan +R1.440.000/orang.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0 gaji Rp 5.000.000/bulan (2009)
PTKP tahunan berlaku mengurangi penghasilan neto
→ PTKP berlaku mengurangi penghasilan neto

TER Kategori A (TK/0, TK/1, K/0)

Berlaku
0%–34% (44 lapisan)2024-01-01 → sekarang

Tabel lengkap TER Kategori A (kelas PTKP TK/0, TK/1, dan K/0) berdasarkan PP 58/2023 Lampiran A jo. PMK 168/2023. 44 lapisan tarif dari 0% hingga 34%.

Lihat tabel lengkap dengan kalkulator TER →
0%–34% (44 lapisan)Tarif efektif: 0% untuk ≤ Rp 5.400.000, naik bertahap hingga 34% untuk > Rp 1.400.000.000
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto bulanan dikurangi iuran pensiun/BPJS
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 5,4 jt0%
2Rp 5,4 jtRp 5,65 jt0.25%
3Rp 5,65 jtRp 5,95 jt0.5%
4Rp 5,95 jtRp 6,3 jt0.75%
5Rp 6,3 jtRp 6,75 jt1%
6Rp 6,75 jtRp 7,5 jt1.25%
7Rp 7,5 jtRp 8,55 jt1.5%
8Rp 8,55 jtRp 9,65 jt1.75%
9Rp 9,65 jtRp 10,05 jt2%
10Rp 10,05 jtRp 10,35 jt2.25%
11Rp 10,35 jtRp 10,7 jt2.5%
12Rp 10,7 jtRp 11,05 jt3%
13Rp 11,05 jtRp 11,6 jt3.5%
14Rp 11,6 jtRp 12,5 jt4%
15Rp 12,5 jtRp 13,75 jt5%
16Rp 13,75 jtRp 15,1 jt6%
17Rp 15,1 jtRp 16,95 jt7%
18Rp 16,95 jtRp 19,75 jt8%
19Rp 19,75 jtRp 24,15 jt9%
20Rp 24,15 jtRp 26,45 jt10%
21Rp 26,45 jtRp 28 jt11%
22Rp 28 jtRp 30,05 jt12%
23Rp 30,05 jtRp 32,4 jt13%
24Rp 32,4 jtRp 35,4 jt14%
25Rp 35,4 jtRp 39,1 jt15%
26Rp 39,1 jtRp 43,85 jt16%
27Rp 43,85 jtRp 47,8 jt17%
28Rp 47,8 jtRp 51,4 jt18%
29Rp 51,4 jtRp 56,3 jt19%
30Rp 56,3 jtRp 62,2 jt20%
31Rp 62,2 jtRp 68,6 jt21%
32Rp 68,6 jtRp 77,5 jt22%
33Rp 77,5 jtRp 89 jt23%
34Rp 89 jtRp 103 jt24%
35Rp 103 jtRp 125 jt25%
36Rp 125 jtRp 157 jt26%
37Rp 157 jtRp 206 jt27%
38Rp 206 jtRp 337 jt28%
39Rp 337 jtRp 454 jt29%
40Rp 454 jtRp 550 jt30%
41Rp 550 jtRp 695 jt31%
42Rp 695 jtRp 910 jt32%
43Rp 910 jtRp 1.400 jt33%
44Rp 1.400 jt∞34%
Wajib Pajak
WP OP dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Kategori A dipakai pegawai dengan kelas PTKP TK/0, TK/1, atau K/0. Tarif 0% untuk penghasilan bruto bulanan ≤ Rp 5.400.000. Tarif tertinggi 34% untuk penghasilan bruto > Rp 1.400.000.000/bulan. TER bulanan hanya untuk masa pajak Januari–November.
Contoh Perhitungan
Pegawai TK/0, gaji Rp 10.000.000/bulan
TER A: jatuh di lapisan ke-9 (di atas Rp 9.650.000 – Rp 10.050.000) = 2%
→ PPh 21 = 2% × Rp 10.000.000 = Rp 200.000
Pegawai K/0, gaji Rp 50.000.000/bulan
TER A: jatuh di lapisan ke-28 (di atas Rp 47.800.000 – Rp 51.400.000) = 18%
→ PPh 21 = 18% × Rp 50.000.000 = Rp 9.000.000
Pegawai TK/1, gaji Rp 100.000.000/bulan
TER A: jatuh di lapisan ke-34 (di atas Rp 89.000.000 – Rp 103.000.000) = 24%
→ PPh 21 = 24% × Rp 100.000.000 = Rp 24.000.000

TER Kategori B (TK/2, TK/3, K/1, K/2)

Berlaku
0%–34% (40 lapisan)2024-01-01 → sekarang

Tabel lengkap TER Kategori B (kelas PTKP TK/2, TK/3, K/1, dan K/2) berdasarkan PP 58/2023 Lampiran B jo. PMK 168/2023. 40 lapisan tarif dari 0% hingga 34%.

Lihat tabel lengkap dengan kalkulator TER →
0%–34% (40 lapisan)Tarif efektif: 0% untuk ≤ Rp 6.200.000, naik bertahap hingga 34% untuk > Rp 1.405.000.000
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto bulanan dikurangi iuran pensiun/BPJS
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 6,2 jt0%
2Rp 6,2 jtRp 6,5 jt0.25%
3Rp 6,5 jtRp 6,85 jt0.5%
4Rp 6,85 jtRp 7,3 jt0.75%
5Rp 7,3 jtRp 9,2 jt1%
6Rp 9,2 jtRp 10,75 jt1.5%
7Rp 10,75 jtRp 11,25 jt2%
8Rp 11,25 jtRp 11,6 jt2.5%
9Rp 11,6 jtRp 12,6 jt3%
10Rp 12,6 jtRp 13,6 jt4%
11Rp 13,6 jtRp 14,95 jt5%
12Rp 14,95 jtRp 16,4 jt6%
13Rp 16,4 jtRp 18,45 jt7%
14Rp 18,45 jtRp 21,85 jt8%
15Rp 21,85 jtRp 26 jt9%
16Rp 26 jtRp 27,7 jt10%
17Rp 27,7 jtRp 29,35 jt11%
18Rp 29,35 jtRp 31,45 jt12%
19Rp 31,45 jtRp 33,95 jt13%
20Rp 33,95 jtRp 37,1 jt14%
21Rp 37,1 jtRp 41,1 jt15%
22Rp 41,1 jtRp 45,8 jt16%
23Rp 45,8 jtRp 49,5 jt17%
24Rp 49,5 jtRp 53,8 jt18%
25Rp 53,8 jtRp 58,5 jt19%
26Rp 58,5 jtRp 64 jt20%
27Rp 64 jtRp 71 jt21%
28Rp 71 jtRp 80 jt22%
29Rp 80 jtRp 93 jt23%
30Rp 93 jtRp 109 jt24%
31Rp 109 jtRp 129 jt25%
32Rp 129 jtRp 163 jt26%
33Rp 163 jtRp 211 jt27%
34Rp 211 jtRp 374 jt28%
35Rp 374 jtRp 459 jt29%
36Rp 459 jtRp 555 jt30%
37Rp 555 jtRp 704 jt31%
38Rp 704 jtRp 957 jt32%
39Rp 957 jtRp 1.405 jt33%
40Rp 1.405 jt∞34%
Wajib Pajak
WP OP dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Kategori B dipakai pegawai dengan kelas PTKP TK/2, TK/3, K/1, atau K/2 (bukan "kawin 0-2 tanggungan"; K/0 termasuk kategori A). Tarif 0% untuk penghasilan bruto bulanan ≤ Rp 6.200.000. Tarif tertinggi 34% untuk penghasilan bruto > Rp 1.405.000.000/bulan. TER bulanan hanya untuk masa pajak Januari–November.
Contoh Perhitungan
Pegawai K/1, gaji Rp 10.000.000/bulan
TER B: jatuh di lapisan ke-6 (di atas Rp 9.200.000 – Rp 10.750.000) = 1,5%
→ PPh 21 = 1,5% × Rp 10.000.000 = Rp 150.000
Pegawai K/2, gaji Rp 25.000.000/bulan
TER B: jatuh di lapisan ke-15 (di atas Rp 21.850.000 – Rp 26.000.000) = 9%
→ PPh 21 = 9% × Rp 25.000.000 = Rp 2.250.000
Pegawai TK/2, gaji Rp 100.000.000/bulan
TER B: jatuh di lapisan ke-30 (di atas Rp 93.000.000 – Rp 109.000.000) = 24%
→ PPh 21 = 24% × Rp 100.000.000 = Rp 24.000.000

TER Kategori C (K/3)

Berlaku
0%–34% (41 lapisan)2024-01-01 → sekarang

Tabel lengkap TER Kategori C (kelas PTKP K/3) berdasarkan PP 58/2023 Lampiran C jo. PMK 168/2023. 41 lapisan tarif dari 0% hingga 34%.

Lihat tabel lengkap dengan kalkulator TER →
0%–34% (41 lapisan)Tarif efektif: 0% untuk ≤ Rp 6.600.000, naik bertahap hingga 34% untuk > Rp 1.419.000.000
Dasar pengenaan: Penghasilan bruto bulanan dikurangi iuran pensiun/BPJS
LapisanBatas BawahBatas AtasTarif
1Rp 0 jtRp 6,6 jt0%
2Rp 6,6 jtRp 6,95 jt0.25%
3Rp 6,95 jtRp 7,35 jt0.5%
4Rp 7,35 jtRp 7,8 jt0.75%
5Rp 7,8 jtRp 8,85 jt1%
6Rp 8,85 jtRp 9,8 jt1.25%
7Rp 9,8 jtRp 10,95 jt1.5%
8Rp 10,95 jtRp 11,2 jt1.75%
9Rp 11,2 jtRp 12,05 jt2%
10Rp 12,05 jtRp 12,95 jt3%
11Rp 12,95 jtRp 14,15 jt4%
12Rp 14,15 jtRp 15,55 jt5%
13Rp 15,55 jtRp 17,05 jt6%
14Rp 17,05 jtRp 19,5 jt7%
15Rp 19,5 jtRp 22,7 jt8%
16Rp 22,7 jtRp 26,6 jt9%
17Rp 26,6 jtRp 28,1 jt10%
18Rp 28,1 jtRp 30,1 jt11%
19Rp 30,1 jtRp 32,6 jt12%
20Rp 32,6 jtRp 35,4 jt13%
21Rp 35,4 jtRp 38,9 jt14%
22Rp 38,9 jtRp 43 jt15%
23Rp 43 jtRp 47,4 jt16%
24Rp 47,4 jtRp 51,2 jt17%
25Rp 51,2 jtRp 55,8 jt18%
26Rp 55,8 jtRp 60,4 jt19%
27Rp 60,4 jtRp 66,7 jt20%
28Rp 66,7 jtRp 74,5 jt21%
29Rp 74,5 jtRp 83,2 jt22%
30Rp 83,2 jtRp 95,6 jt23%
31Rp 95,6 jtRp 110 jt24%
32Rp 110 jtRp 134 jt25%
33Rp 134 jtRp 169 jt26%
34Rp 169 jtRp 221 jt27%
35Rp 221 jtRp 390 jt28%
36Rp 390 jtRp 463 jt29%
37Rp 463 jtRp 561 jt30%
38Rp 561 jtRp 709 jt31%
39Rp 709 jtRp 965 jt32%
40Rp 965 jtRp 1.419 jt33%
41Rp 1.419 jt∞34%
Wajib Pajak
WP OP dalam negeri
Penerima
Negara
Berlaku
2024-01-01 → sekarang
Kategori C hanya dipakai pegawai dengan kelas PTKP K/3 (kawin, 3 tanggungan). Tarif 0% untuk penghasilan bruto bulanan ≤ Rp 6.600.000. Tarif tertinggi 34% untuk penghasilan bruto > Rp 1.419.000.000/bulan. TER bulanan hanya untuk masa pajak Januari–November.
Contoh Perhitungan
Pegawai K/3, gaji Rp 10.000.000/bulan
TER C: jatuh di lapisan ke-7 (di atas Rp 9.800.000 – Rp 10.950.000) = 1,5%
→ PPh 21 = 1,5% × Rp 10.000.000 = Rp 150.000
Pegawai K/3, gaji Rp 50.000.000/bulan
TER C: jatuh di lapisan ke-24 (di atas Rp 47.400.000 – Rp 51.200.000) = 17%
→ PPh 21 = 17% × Rp 50.000.000 = Rp 8.500.000
Pegawai K/3, gaji Rp 100.000.000/bulan
TER C: jatuh di lapisan ke-31 (di atas Rp 95.600.000 – Rp 110.000.000) = 24%
→ PPh 21 = 24% × Rp 100.000.000 = Rp 24.000.000

Norma - Dokter/Dokter Gigi

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Dokter honorarium Rp 100.000.000
Neto=50%×100jt=50jt. PKP=50jt-54jt=negatif
→ PPh=R0

Norma - Pengacara/Advokat

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Pengacara honorarium Rp 200.000.000
Neto=50%×200jt=100jt. PKP=100jt-54jt=46jt
→ PPh=5%×46jt=R2.300.000

Norma - Akuntan

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Akuntan honorarium Rp 80.000.000
Neto=50%×80jt=40jt. PKP=40jt-54jt=negatif
→ PPh=R0

Norma - Arsitek

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Arsitek honorarium Rp 150.000.000
Neto=50%×150jt=75jt. PKP=75jt-54jt=21jt
→ PPh=5%×21jt=R1.050.000

Norma - Notaris/PPAT

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Notaris honorarium Rp 120.000.000
Neto=50%×120jt=60jt. PKP=60jt-54jt=6jt
→ PPh=5%×6jt=R300.000

Norma - Konsultan

Berlaku
50%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 50% dari bruto untuk pekerjaan bebas. Dasar: PP 16/2009 Pasal 17.

50%
Dasar pengenaan: 50% × penghasilan bruto (norma penghitungan)
Wajib Pajak
WP OP pelaku pekerjaan bebas
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Norma penghitungan 50% dari bruto. Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Konsultan honorarium Rp 200.000.000
Neto=50%×200jt=100jt. PKP=100jt-54jt=46jt
→ PPh=5%×46jt=R2.300.000

Norma - Pedagang

Berlaku
20%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 20% dari bruto untuk usaha perdagangan. Nilai representatif; NPPN (Norma Penghitungan Penghasilan Neto) yang berlaku bervariasi per jenis usaha/KLU dan wilayah.

20%
Dasar pengenaan: 20% × penghasilan bruto (norma penghitungan, nilai representatif)
Wajib Pajak
WP OP pelaku usaha perdagangan
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Angka 20% adalah nilai representatif historis (era KMK 523/KMK.04/2002 jo. PMK 43/PMK.03/2012). NPPN yang berlaku kini bervariasi per jenis usaha (KLU) dan wilayah — daftar NPPN memakai PER-17/PJ/2015 yang pemutakhirannya terintegrasi dengan regulasi PPh 21 terkini (PMK 168/2023 jo. PMK 81/2024). Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Pedagang omzet Rp 500.000.000/tahun (asumsi norma 20%)
Neto=20%×500jt=100jt. PKP=100jt-54jt=46jt
→ PPh=5%×46jt=R2.300.000

Norma - Petani/Peternak

Berlaku
10%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 10% dari bruto untuk usaha pertanian/peternakan. Nilai representatif; NPPN (Norma Penghitungan Penghasilan Neto) yang berlaku bervariasi per jenis usaha/KLU dan wilayah.

10%
Dasar pengenaan: 10% × penghasilan bruto (norma penghitungan, nilai representatif)
Wajib Pajak
WP OP pelaku usaha pertanian/peternakan
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Angka 10% adalah nilai representatif historis (era KMK 523/KMK.04/2002 jo. PMK 43/PMK.03/2012). NPPN yang berlaku kini bervariasi per jenis usaha (KLU) dan wilayah — daftar NPPN memakai PER-17/PJ/2015 yang pemutakhirannya terintegrasi dengan regulasi PPh 21 terkini (PMK 168/2023 jo. PMK 81/2024). Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Petani omzet Rp 300.000.000/tahun (asumsi norma 10%)
Neto=10%×300jt=30jt. PKP=30jt-54jt=negatif
→ PPh=R0 (tidak terutang)

Norma - Pengusaha Kecil Lainnya

Berlaku
25%2002-01-01 → sekarang

Norma penghitungan penghasilan neto 25% dari bruto untuk usaha kecil lainnya. Nilai representatif; NPPN (Norma Penghitungan Penghasilan Neto) yang berlaku bervariasi per jenis usaha/KLU dan wilayah.

25%
Dasar pengenaan: 25% × penghasilan bruto (norma penghitungan, nilai representatif)
Wajib Pajak
WP OP pelaku usaha kecil lainnya
Penerima
Negara
Berlaku
2002-01-01 → sekarang
Angka 25% adalah nilai representatif historis (era KMK 523/KMK.04/2002 jo. PMK 43/PMK.03/2012). NPPN yang berlaku kini bervariasi per jenis usaha (KLU) dan wilayah — daftar NPPN memakai PER-17/PJ/2015 yang pemutakhirannya terintegrasi dengan regulasi PPh 21 terkini (PMK 168/2023 jo. PMK 81/2024). Berlaku jika WP tidak menyelenggarakan pembukuan.
Contoh Perhitungan
Pengusaha kecil omzet Rp 200.000.000/tahun (asumsi norma 25%)
Neto=25%×200jt=50jt. PKP=50jt-54jt=negatif
→ PPh=R0 (tidak terutang)
PBBPPh 22