Tarif Pajak ID

PPh 4(2) Final

Pajak Penghasilan Final Pasal 4 ayat (2) - Pajak yang dipungut pada saat penghasilan tertentu diterima

15 aktif18 total
41 kode BPPU terkait

Bunga Deposito dan Tabungan

Berlaku
20%2009-01-01 → sekarang16 BPPU

Pajak final atas bunga deposito dan simpanan tabungan yang dibayar oleh bank.

20%
Dasar pengenaan: Jumlah bunga bruto
Wajib Pajak
Pemilik deposito/tabungan
Penerima
Negara
Pemotong
Bank pembayar bunga
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (16)Lihat semua ↗
KodeNamaTarif
28-404-01Bunga Tabungan dan Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri yang Dananya Bersumber Selain dari Devisa Hasil Ekspor (DHE)20%
28-404-02Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang IDR bersumber dari DHE tenor 1 bulan)7.5%
28-404-03Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang IDR bersumber dari DHE tenor 3 bulan)5%
28-404-04Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang IDR bersumber dari DHE tenor 6 bulan atau lebih)0%
28-404-05Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang USD bersumber dari DHE tenor 1 bulan)10%
28-404-06Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang USD bersumber dari DHE tenor 3 bulan)7.5%
28-404-07Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang USD bersumber dari DHE tenor 6 bulan)2.5%
28-404-08Bunga Deposito yang Ditempatkan di Dalam Negeri (mata uang USD bersumber dari DHE tenor lebih 6 bulan)0%
28-404-09Bunga Deposito/Tabungan yang Ditempatkan di Luar Negeri Melalui Bank yang Didirikan atau Bertempat Kedudukan di Indonesia atau Cabang Bank Luar Negeri di Indonesia20%
28-404-10Diskonto Sertifikat Bank Indonesia20%
28-404-11Jasa Giro20%
28-401-01Bunga Obligasi, Surat Utang Negara, atau Obligasi Daerah yang Diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap.15%
28-401-06Bunga Obligasi yang Diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap10%
28-401-03Bunga Obligasi yang Diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang diadministrasikan oleh BI10%
28-401-04Diskonto Surat Perbendaharaan Negara yang Diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap20%
28-401-05Diskonto Surat Perbendaharaan Negara yang Diterima Wajib Pajak Penduduk/Berkedudukan di Luar Negeri20%
Bunga tabungan dan deposito bank umum dan BPR dikenakan PPh final 20%. Bebas pajak untuk bunga simpanan di bank perwakilan negara P3B. Catatan: kode 28-404-02 s.d. 28-404-08 (bunga deposito bersumber DHE, tarif 0-10%) merupakan skema insentif DHE (PMK 78/PMK.010/2010) yang sudah tidak berlaku — HISTORIS.
Contoh Perhitungan
Bunga Deposito dan Tabungan Rp 100.000.000
20% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 20.000.000

Sewa Tanah dan/atau Bangunan

Berlaku
10%2009-01-01 → sekarang1 BPPU

Pajak final atas penghasilan berupa sewa tanah dan/atau bangunan selain yang dipotong PPh 23.

10%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto sewa
Wajib Pajak
Penerima sewa
Penerima
Negara
Pemotong
Penyewa (sebagai pemotong)
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (1)Lihat semua ↗
28-403-0210%
PP 131/2000 Pasal 4 mengatur bahwa sewa tanah dan/atau bangunan yang dipotong PPh final 10% adalah yang tidak termasuk PPh 23.
Contoh Perhitungan
Sewa Tanah dan/atau Bangunan Rp 100.000.000
10% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 10.000.000

Hadiah Undian

Berlaku
25%2009-01-01 → sekarang2 BPPU

Pajak final atas hadiah undian, baik berupa uang maupun barang.

25%
Dasar pengenaan: Nilai hadiah bruto
Wajib Pajak
Penerima hadiah
Penerima
Negara
Pemotong
Penyelenggara undian
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (2)Lihat semua ↗
28-405-0125%28-419-0110%
Contoh Perhitungan
Hadiah Undian Rp 100.000.000
25% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 25.000.000

Keuntungan Transaksi Saham di Bursa Efek

Berlaku
0.1%2009-01-01 → sekarang3 BPPU

Pajak final atas penghasilan dari perdagangan saham di bursa efek melalui perantara pedagang efek.

0.1%
Dasar pengenaan: Nilai transaksi penjualan saham
Wajib Pajak
Penjual saham
Penerima
Negara
Pemotong
Perantara pedagang efek
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (3)Lihat semua ↗
28-407-010.5%28-406-010.1%28-408-010.1%
Tarif 0,1% dari nilai transaksi penjualan saham (final). Berlaku untuk transaksi di bursa efek.
Contoh Perhitungan
Keuntungan Transaksi Saham di Bursa Efek Rp 100.000.000
0.1% × 100.000.000
→ Pajak = Rp 100.000

Pekerjaan dan Jasa Konstruksi

Berlaku
1.75–6%2021-02-02 → sekarang7 BPPU

Pemotongan PPh Final atas penghasilan dari pekerjaan konstruksi dan jasa konsultansi konstruksi yang dilakukan penyedia jasa konstruksi, sesuai PP 51/2008 jo. PP 9/2022 (implementasi UU 7/2021 Pasal 4 ayat (2) huruf b), berlaku untuk penyerahan sejak masa pajak April 2022.

1.75–6%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto nilai kontrak atau nilai pekerjaan
Wajib Pajak
Penyedia jasa konstruksi
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja/pemilik proyek
Berlaku
2021-02-02 → sekarang
Kode BPPU (7)Lihat semua ↗
28-409-221.75%28-409-234%28-409-242.65%28-409-252.65%28-409-264%28-409-273.5%28-409-286%
Struktur 7 kode objek pajak final konstruksi dengan 5 nilai tarif (1,75%, 2,65%, 3,5%, 4%, 6%) diatur PP 9/2022 (perubahan kedua atas PP 51/2008), pelaksana UU 7/2021 Pasal 40; berlaku sejak masa pajak April 2022. Sektor jasa konstruksinya sendiri (kualifikasi usaha, sertifikat) diatur PP 22/2020 jo. PP 14/2021. Kode objek pajak BPPU aktif 7 kode: 28-409-22 s.d. 28-409-28 dengan tarif 1,75% (kualifikasi kecil/perseorangan bersertifikat), 2,65% (selain kecil bersertifikat dan konstruksi terintegr...
Contoh Perhitungan
Pekerjaan Konstruksi Rp 100.000.000 oleh penyedia jasa kualifikasi kecil bersertifikat
1,75% × 100jt
→ PPh Final = Rp 1.750.000

Bunga Simpanan Koperasi

Berlaku
0–10%2022-01-01 → sekarang2 BPPU

Pemotongan PPh atas bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota WP Orang Pribadi.

0–10%
Dasar pengenaan: Jumlah bunga simpanan
Wajib Pajak
Anggota koperasi (WP OP)
Penerima
Negara
Pemotong
Koperasi
Berlaku
2022-01-01 → sekarang
Kode BPPU (2)Lihat semua ↗
28-417-010%28-417-0210%
Terdiri dari 2 kode objek pajak BPPU dengan tarif 0.0%, 10.0%.
Contoh Perhitungan
Bunga Simpanan Koperasi Rp 100.000.000
Tarif 0.0%-10.0% × 100jt
→ Pajak = Rp 0 - Rp 10.000.000

Penghasilan dari Pengangkutan dan Charter

Berlaku
1.2–2.64%2009-01-01 → sekarang5 BPPU

Pemotongan PPh atas imbalan pengangkutan orang dan/atau barang, charter kapal laut dan pesawat udara, baik perusahaan dalam negeri maupun luar negeri.

1.2–2.64%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto imbalan
Wajib Pajak
Perusahaan pelayaran/penerbangan
Penerima
Negara
Pemotong
Pemberi kerja/pembayar imbalan
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (5)Lihat semua ↗
28-410-021.2%28-411-022.64%29-101-011.8%28-410-011.2%28-411-012.64%
Terdiri dari 5 kode objek pajak BPPU dengan tarif 1.2%, 1.8%, 2.64%.
Contoh Perhitungan
Penghasilan dari Pengangkutan dan Charter Rp 100.000.000
Tarif 1.2%-2.64% × 100jt
→ Pajak = Rp 1.200.000 - Rp 2.640.000

Penghasilan dari Kegiatan Hulu Migas

Berlaku
5–20%2009-01-01 → sekarang3 BPPU

Pemotongan PPh atas penghasilan sehubungan dengan kegiatan hulu minyak dan gas bumi meliputi uplift, participating interest eksplorasi dan eksploitasi.

5–20%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto penghasilan
Wajib Pajak
Kontraktor migas
Penerima
Negara
Pemotong
Pemerintah/BP Migas
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
Kode BPPU (3)Lihat semua ↗
28-421-0120%28-421-025%28-421-037%
Terdiri dari 3 kode objek pajak BPPU dengan tarif 5.0%, 7.0%, 20.0%.
Contoh Perhitungan
Penghasilan dari Kegiatan Hulu Migas Rp 100.000.000
Tarif 5.0%-20.0% × 100jt
→ Pajak = Rp 5.000.000 - Rp 20.000.000

Penghasilan dari Kerja Sama dengan LPI / Jasa Maklon Internasional

Berlaku
2.1–7.5%2022-01-01 → sekarang2 BPPU

Pemotongan PPh atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan kerja sama dengan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dan jasa maklon internasional di bidang produksi mainan anak-anak.

2.1–7.5%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto penghasilan
Wajib Pajak
WP penerima penghasilan
Penerima
Negara
Pemotong
LPI / Pemberi kerja
Berlaku
2022-01-01 → sekarang
Kode BPPU (2)Lihat semua ↗
28-499-027.5%28-499-012.1%
Terdiri dari 2 kode objek pajak BPPU dengan tarif 2.1%, 7.5%.
Contoh Perhitungan
Penghasilan dari Kerja Sama dengan LPI / Jasa Maklon Internasional Rp 100.000.000
Tarif 2.1%-7.5% × 100jt
→ Pajak = Rp 2.100.000 - Rp 7.500.000

Bunga Simpanan (Pra-2009)

Diubah
15%2001-01-01 → 2008-12-31

PPh final atas bunga simpanan (deposito, tabungan, SBI) berdasarkan UU 17/2000. Tarif 15%. Berlaku 2001-2008.

15%
Dasar pengenaan: Jumlah bunga simpanan bruto
Wajib Pajak
Penabung / deposan
Penerima
Negara
Pemotong
Bank / lembaga keuangan
Berlaku
2001-01-01 → 2008-12-31
Tarif bunga deposito 15% UU 17/2000. Diturunkan/sesuai skema berjenjang oleh UU 36/2008.
Contoh Perhitungan
Bunga deposito Rp 10.000.000 tahun 2005
15% × 10.000.000
→ PPh final = Rp 1.500.000

Pengalihan Hak atas Tanah/Bangunan (PP 131/2000)

Dicabut
5%2000-12-29 → 2008-12-31

PPh final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan berdasarkan PP 131/2000. Tarif 5% dari NJOP. Berlaku 2000-2008.

5%
Dasar pengenaan: Jumlah bruto nilai pengalihan (NJOP / nilai transaksi)
Wajib Pajak
WP yang mengalihkan hak atas tanah/bangunan
Penerima
Negara
Pemotong
Notaris / PPAT / BPN
Berlaku
2000-12-29 → 2008-12-31
PP 131/2000: tarif 5% dari nilai bruto. Digantikan PP 71/2008 dengan tarif 2.5%/1%/0%.
Contoh Perhitungan
Penjualan tanah NJOP Rp 500.000.000 tahun 2005
5% × 500.000.000
→ PPh final = Rp 25.000.000

Pengalihan Hak atas Tanah/Bangunan (PP 71/2008)

Berlaku
0–2.5%2009-01-01 → sekarang

PPh final atas pengalihan hak atas tanah/bangunan berdasarkan PP 71/2008. Tarif berjenjang: 2.5% (umum), 1% (perumahan sederhana), 0% (waris/hibah keluarga inti).

0–2.5%
Dasar pengenaan: NJOP atau nilai transaksi pengalihan
Wajib Pajak
WP yang mengalihkan hak atas tanah/bangunan
Penerima
Negara
Pemotong
Notaris / PPAT / BPN
Berlaku
2009-01-01 → sekarang
PP 71/2008: 2.5% umum, 1% perumahan sederhana (max 300jt)/rusun (max 350jt), 0% waris/hibah keluarga inti.
Contoh Perhitungan
Penjualan tanah NJOP Rp 1.000.000.000
2.5% × 1.000.000.000
→ PPh final = Rp 25.000.000
Waris orang tua ke anak, NJOP Rp 800.000.000
0% (hibah/waris keluarga inti)
→ PPh final = Rp 0

Penerbangan Dalam Negeri

Berlaku
6% × peredaran bruto × 22%1984-01-01 → sekarang

PPh Pasal 15 atas usaha penerbangan domestik dengan metode deemed profit: PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% (efektif 1,32% atas peredaran bruto).

6% × peredaran bruto × 22%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto) × tarif Pasal 17 22%
Wajib Pajak
Perusahaan penerbangan domestik
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
PPh Pasal 15 (bukan PPh 4(2) final): PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% = efektif 1,32% atas peredaran bruto (sebelum UU HPP: 6% × 30% = 1,8%). Catatan rezim: sejak UU 7/2021 (HPP) imbalan pengangkutan/penerbangan domestik dapat dikenai PPh final 1,2%/1,8% sesuai Pasal 4(2) huruf p — lihat entri pph-final-transportasi; gunakan entri ini sesuai konteks rezim yang berlaku. Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori P...
Contoh Perhitungan
Penerbangan Dalam Negeri bruto Rp 10 miliar
Norma 6% × 10 miliar = 600jt (deemed profit); PPh = 22% × 600jt
→ PPh 15 = Rp 132.000.000 (efektif 1,32% × peredaran bruto)

Pelayaran Dalam Negeri

Berlaku
6% × peredaran bruto × 22%1984-01-01 → sekarang

PPh Pasal 15 atas usaha pelayaran domestik dengan metode deemed profit: PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% (efektif 1,32% atas peredaran bruto).

6% × peredaran bruto × 22%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto) × tarif Pasal 17 22%
Wajib Pajak
Perusahaan pelayaran domestik
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
PPh Pasal 15 (bukan PPh 4(2) final): PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% = efektif 1,32% atas peredaran bruto (sebelum UU HPP: 6% × 30% = 1,8%). Catatan rezim: sejak UU 7/2021 (HPP) imbalan pengangkutan/pelayaran domestik dapat dikenai PPh final 1,2% sesuai Pasal 4(2) huruf p — lihat entri pph-final-transportasi; gunakan entri ini sesuai konteks rezim yang berlaku. Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori PPh 15 t...
Contoh Perhitungan
Pelayaran Dalam Negeri bruto Rp 10 miliar
Norma 6% × 10 miliar = 600jt (deemed profit); PPh = 22% × 600jt
→ PPh 15 = Rp 132.000.000 (efektif 1,32% × peredaran bruto)

Perusahaan Asuransi Dalam Negeri

Berlaku
6% × peredaran bruto × 22%1984-01-01 → sekarang

PPh Pasal 15 atas usaha asuransi/reasuransi dalam negeri dengan metode deemed profit: PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% (efektif 1,32% atas peredaran bruto).

6% × peredaran bruto × 22%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto) × tarif Pasal 17 22%
Wajib Pajak
Perusahaan asuransi/reasuransi domestik
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
PPh Pasal 15 (bukan PPh 4(2) final): PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% = efektif 1,32% atas peredaran bruto. Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori PPh 15 tersendiri.
Contoh Perhitungan
Perusahaan Asuransi Dalam Negeri bruto Rp 10 miliar
Norma 6% × 10 miliar = 600jt (deemed profit); PPh = 22% × 600jt
→ PPh 15 = Rp 132.000.000 (efektif 1,32% × peredaran bruto)

Penyewaan Pesawat/Kapal dari Luar Negeri

Berlaku
6% × 106% × peredaran bruto × 22%1984-01-01 → sekarang

PPh Pasal 15 atas penyewaan pesawat/kapal dari luar negeri (bareboat charter): norma penghasilan neto 6% × 106% = 6,36% dari peredaran bruto (tambahan 6% karena charter dari luar negeri), dikalikan tarif Pasal 17 22%.

6% × 106% × peredaran bruto × 22%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma penghasilan neto 6,36% × peredaran bruto) × tarif Pasal 17 22%
Wajib Pajak
Perusahaan pelayaran/penerbangan luar negeri (charter)
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
PPh Pasal 15 (bukan PPh 4(2) final): angka 6,36% adalah NORMA penghasilan neto atas peredaran bruto = 6% × 106% (tambahan 6% untuk pengangkutan dengan kapal laut/pesawat udara yang disewa dari luar negeri sesuai Pasal 15 ayat (2)) — PPh sesungguhnya = norma 6,36% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22%. Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori PPh 15 tersendiri.
Contoh Perhitungan
Penyewaan Pesawat/Kapal dari Luar Negeri bruto Rp 10 miliar
Norma 6,36% × 10 miliar = 636jt (deemed profit); PPh = 22% × 636jt
→ PPh 15 = Rp 139.920.000

Perusahaan Minyak Asing (PMA) - HISTORIS

Dicabut
48%1984-01-01 → sekarang

ENRI HISTORIS (tidak berlaku lagi): PPh deemed profit 48% atas penghasilan badan usaha migas asing (PSC) pada rezim UU 7/1983 Pasal 15 ayat (4). Rezim ini sudah lama tidak berlaku.

48%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma laba netto × peredaran bruto)
Wajib Pajak
Badan usaha migas asing (PSC era UU 7/1983)
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
HISTORIS: tarif 48% adalah rezim UU 7/1983 Pasal 15 ayat (4) untuk badan usaha yang mendapat perlakuan khusus perusahaan minyak/gas bumi. Rezim ini sudah lama tidak berlaku — kontraktor KK/PKP2B saat ini dikenai tarif umum PPh badan (kini 22% sejak UU HPP). Tanggal berakhir rezim ini tidak dipastikan dalam sumber, sehingga effectiveTo dibiarkan null meski statusnya dicabut. Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori PPh 15 tersendiri.
Contoh Perhitungan
Perusahaan Minyak Asing (PMA) bruto Rp 10 miliar (rezim historis UU 7/1983)
Norma laba netto × 48%
→ PPh 15 (historis) = deemed profit × 48% - TIDAK BERLAKU LAGI

Kontraktor/Operator Tambang

Berlaku
6% × peredaran bruto × 22%1984-01-01 → sekarang

PPh Pasal 15 atas penghasilan kontraktor pertambangan (selain migas) dengan metode deemed profit: PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% (efektif 1,32% atas peredaran bruto).

6% × peredaran bruto × 22%
Dasar pengenaan: Deemed profit (norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto) × tarif Pasal 17 22%
Wajib Pajak
Kontraktor/operator pertambangan (selain migas)
Penerima
Negara
Berlaku
1984-01-01 → sekarang
PPh Pasal 15 (bukan PPh 4(2) final): PPh = norma penghasilan neto 6% × peredaran bruto × tarif Pasal 17 22% = efektif 1,32% atas peredaran bruto (jangan dihitung 22% × peredaran bruto). Enri PPh 15 dimuat di file PPh 4(2) Final untuk sementara karena belum ada file kategori PPh 15 tersendiri.
Contoh Perhitungan
Kontraktor/Operator Tambang bruto Rp 10 miliar
Norma 6% × 10 miliar = 600jt (deemed profit); PPh = 22% × 600jt
→ PPh 15 = Rp 132.000.000 (efektif 1,32% × peredaran bruto)
PPh 26PPh Badan